Skip to main content

Jalan-Jalan ke Kampung Korea (Part 4)

"Korean Folk Village"
(Last Day)  

Teman-teman, postingan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya “Jalan-Jalan ke Museum Korea & Seoul Tower"

Setelah check out dari Hotel Lotte, saya berwisata ke “Korean Folk Village”. 

Saat tiba di tempat tujuan saya langsung disuguhi pemandangan yang betul-betul “ndeso”.


Mulai dari model rumah, peralatan rumah tangga, hingga model pakaian yang digunakan oleh para “kru” tempat wisata tersebut disesuaikan dengan suasana Korea pada zaman Dinasti Jeoseon



Friends, Oppanya jangkung-jangkung 💃

Suasana “Kampung Rakyat Korea” tersebut mengingatkan saya pada sinetron-sinetron kolosal Indonesia, seperti: “Misteri Gunung Merati” dan “Angling Dharma” :D

Saya tidak menyangka bahwa alat pembersih atau pengayak beras “tampah” (bahasa Makassar: pattapi atau paddinging) juga digunakan oleh rakyat Korea pada zaman dahulu. 


Ini foto saya & istri Prof. Lukman yang memegang “tampah” atau “pattapi”.



Istri Prof. Lukman memegang tampah "pattapi"

Selain itu, saya juga sempat berfoto dengan “kru” “Korean Folk Village” yang menggunakan pakaian tradisional pria Korea tempo doloe yang terdiri atas: 

Topi Lebar yang bagian tengahnya seperti tabung “Gat”, Coat Panjang yang diikat dengan tali di bagian tengahnya “Durumagi”, dan Sepatu Flat Jipsin” (pada masa Dinasti Jeoseon katanya sih bahan sepatunya terbuat dari kain atau jerami). 


Ini lho foto bersama dengan kru ganteng tersebut.




Setelah merasa puas berkeliling di “Kampung Rakyat Korea”, kami akhirnya memutuskan untuk langsung kembali ke Universitas Hankuk (rumah dinas Dr. Ery) dengan menggunakan bus. 

Pengalaman naik bus ini merupakan momen yang tidak akan pernah saya lupakan karena mulai dari proses menunggu bus, kita harus antri panjang (tanpa memandang status, Hehe). 


Ini suasana ketika berada di dalam bus. 




Friends, setiap pintu bus di Korea Selatan sepertinya dilengkapi sensor karena jika seorang penumpang berusaha untuk menyerobot masuk ke dalam bus (peringatan yah untuk orang Indonesia, hehe), maka pintu bus akan tertutup secara otomatis. 

Oh iya, pembayaran jasa angkutan bus di Negeri Oppa hanya menggunakan dua cara, yaitu menggunakan kartu (sistem isi ulang) dan cash (membayar langsung).

Jika kita ingin membayar langsung, maka silahkan masukkan uang di kotak  di samping supir bus tersebut (bentuknya seperti kotak amal di masjid). 

Pembayarannya langsung dilakukan ketika naik di bus, sedangkan jika membayar dengan kartu, maka silahkan tempelkan kartu eletrik pada alat khusus yang letaknya juga tepat di samping supir bus tersebut. 


Secara otomatis (anggaplah semacam “pulsa”) kartu tersebut akan berkurang dengan sendirinya.

Sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa menginformasikan proses & tempat pembuatan kartu eletrik tersebut berhubung saat itu Ibu Ery-lah yang mengurus pembuatannya.

Ini gambar kartu yang kami gunakan untuk membayar jasa angkutan bus tersebut.


Tampilannya "childish", yah 😏

Pengalaman unik lainnya ketika jalan-jalan di Negeri Ginseng adalah orang-orangnya.

Mungkin kalian sudah tahu atau setidaknya pernah mendengar kalau orang-orang Korea Selatan tidak asing lagi dengan operasi plastik. 


But, dalam tulisan ini saya tidak akan menghidangkan prosesnya, tetapi hasilnya.

Dalam jalan-jalan tersebut, saya cukup sering menemui wajah-wajah (khususnya para wanita Korea) yang sangat mirip satu sama lainnya (ini bukan cerita horor, loh). 

Saya & Amel sependapat bahwa sepertinya fenomena tersebut merupakan hasil dari “Plastic Surgery” yang mereka lakukan dengan hanya mencontoh satu model wajah saja. 



Sangat menjenuhkan kalau semua hal itu sama, yah? 

Di sisi lain, kita tidak boleh langsung menjust bahwa semua wanita Korea yang cantik & pria Korea yang tampan telah melakukan oplas karena bisa jadi itumemang faktor genetik (hehe). 

Contohnya seperti aktris & aktor Korea film lawas "Endless Love".



www.ahtv.cn

Pengalaman unik lainnya ...

Ketika hari pertama berada di Hotel Lotte. 


Saat itu sebelum masuk lift, saya, Amel, Ibu Gusnawaty, dan Prof. Lukman mengobrol santai di salah satu bagian hotel yang memiliki lukisan & tempat duduk. 


Saat itu juga seorang pria Korea berusia sekitar 30-an terlihat ingin memasuki lift. Namun, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan terlihat sedikit “salah tingkah”. 


Ia menoleh kanan-kiri, sesekali melihat lukisan yang ada di sekitar ruangan hotel, kemudian mencuri-curi pandang ke arah kami semua. 


Ternyata oh ternyata ...

Ia mengenali identitas kami sebagai warga negara Indonesia & akhirnya berusaha menegur kami dengan bahasa Indonesia yang umum dilafalkan oleh orang asing, seperti: 


“Apa kabar”, 
“Selamat malam”  
“Sampai jumpa” 

Senang sekali bertemu dengan pria Korea yang ramah itu.


So, jangan malu-malu menggunakan bahasa Indonesia saat berada di “negara orang”.



 “Bahasa menunjukkan Bangsa”. 

Sayangnya, kami tidak sempat berfoto dengan Pria Korea itu.


Ini bagian dekat lift, tempat kami bertemu dengannya.




Teman-teman, itulah beberapa pengalaman unik yang bisa saya share dalam postingan (last day) ini. 

Berikut ini beberapa foto sederhana yang sempat saya abadikan ketika berada di Negeri Oppa tersebut.



Menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi dari Hotel Lotte



Saya juga menyempatkan diri berfoto di Universitas Hankuk, salah satu perguruan tinggi di Korea Selatan yang membuka jurusan bahasa Indonesia.


Selanjutnya, potret saya bersama Amel ketika berada di rumah tradisional “Korean Folk Village”.


Terakhir, foto Dr. Gusnawaty bersama Prof. Song saat menikmati shabu-shabu saat malam terakhir kami di Korea Selatan.


So, sekian dulu cerita perjalanan short trip ini. 

Semoga episode I hingga IV-nya bisa memberikan informasi, hiburan, atau inspirasi bagi kalian semua. 


Baca Juga:


#Hanya ingin berbagi pengetahuan & pengalaman hidup

Comments

  1. Kalau boleh kasih masukan. Obat merk kenacort lebih baik..

    ReplyDelete

Post a Comment